“Sebenarnya bukannya ngga
bisa, tapi ngga mau” mungkin kata-kata itu benar, bukan kemustahilan
mendapatkannya jika aku adalah “aku yang dulu”. Aku yang dulu, bukanlah aku
yang abu-abu.
Karena bagiku, masa
abu-abu adalah masa terkutuk, tak seperti masa biru unyu-unyu. Dulu belajar itu
bukan kewajiban lagi, tapi kebutuhan. Tapi sekarang, otak ini se abu-abu
seragamku. Entah kenapa sejak pertama kali rokku berganti, mereka melalukan
penolakan, demo besar-besaran. Belajar itu seperti merayakan annyversary,
sangat jarang dilakukan. Di sekolah jangan tanya, ruang kelas seperti kamar
tidur paling nyaman apalagi pas pelajaran. Tapi itu semua sangat lucu dan
menghura-hura biru-bukan haru.
Aku fikir, semua sudah
sejauh ini, tak perlu lah berubah untuk jadi yang dulu lagi, tapi aku salah.
Aku sadar, moment kelulusan itu bukan hal biasa seperti kenaikan kelas. Aku
sadar itulah saat terakhirku. Saat dimana aku baru tau kalau orang tua begitu
berharap pada kita, apalagi ibu. Dan percakapan di ruang guru itu
menyadarkanku:
“bu, masa ibunya hasan
(nama disamarkan-untung bukan mawar) kemarin ngomel gara-gara anaknya nggak
dapat peringkat”
“itu sih biasa bu, ibunya
nindi juga sama gitu juga kemarin, semua ibu juga gitu”
“semua ibu juga gitu”
“semua ibu juga gitu”
“semua ibu juga gitu”
Sudah berapa kali? Baru
tiga kali yah? Berarti harus ditambah lagi. Dan suara itu terngiang lagi
seperti kaset rusak dan aku tak mengerti. “semua ibu juga gitu” apa ibu juga
gitu? Kemana saja aku? Memang ibu tak pernah protes atau komentar macam-macam
tentang penurunan maratonku di tingkat seniorku, tapi ibu juga tak pernah
memintaku melakukan itu. Lalu apa aku tak ingin melakukan yang terbaik untuk
ibu? Seperti yang diharapkan ibu-ibu lainnya. Dasar anak tidak peka! Aku
terlalu memikirkan diriku sendiri. Mulai sekarang aku akan berjuang. Dan semua
itu karena ibu.
Berjuang memang tak
mudah. Bukannya mengulang tapi bersiap dari nol. Ia tak semudah berkedip, tapi
juga tak sesulit mencium siku sendiri. aku tak pernah berjuang tanpa tujuan,
dan semua itu karena ibu. Apalagi yang bisa kuberikan selain hasil dari noda
pulpen yang menempel di seragam putih abu-abuku ini.
Dan inilah aku sekarang,
dengan segala perjuanganku, ku persembahkan untuk ibuku, ibu yang melahirkanku,
ibu yang tak pernah menuntutku, ibu yang meluaskan bahagiaku, ibu yang
membuatku berkata “semua itu tak semudah berkedip dan tak sesulit mencium
siku”, ibu yang segalanya bagiku, i love you ibuku...




























