Minggu, 24 Desember 2017

TAK SEMUDAH BERKEDIP, TAK SESULIT MENCIUM SIKU, DAN ITU KARENA IBUKU




“Sebenarnya bukannya ngga bisa, tapi ngga mau” mungkin kata-kata itu benar, bukan kemustahilan mendapatkannya jika aku adalah “aku yang dulu”. Aku yang dulu, bukanlah aku yang abu-abu.
Karena bagiku, masa abu-abu adalah masa terkutuk, tak seperti masa biru unyu-unyu. Dulu belajar itu bukan kewajiban lagi, tapi kebutuhan. Tapi sekarang, otak ini se abu-abu seragamku. Entah kenapa sejak pertama kali rokku berganti, mereka melalukan penolakan, demo besar-besaran. Belajar itu seperti merayakan annyversary, sangat jarang dilakukan. Di sekolah jangan tanya, ruang kelas seperti kamar tidur paling nyaman apalagi pas pelajaran. Tapi itu semua sangat lucu dan menghura-hura biru-bukan haru.
Aku fikir, semua sudah sejauh ini, tak perlu lah berubah untuk jadi yang dulu lagi, tapi aku salah. Aku sadar, moment kelulusan itu bukan hal biasa seperti kenaikan kelas. Aku sadar itulah saat terakhirku. Saat dimana aku baru tau kalau orang tua begitu berharap pada kita, apalagi ibu. Dan percakapan di ruang guru itu menyadarkanku:
“bu, masa ibunya hasan (nama disamarkan-untung bukan mawar) kemarin ngomel gara-gara anaknya nggak dapat peringkat”
“itu sih biasa bu, ibunya nindi juga sama gitu juga kemarin, semua ibu juga gitu”
“semua ibu juga gitu”
“semua ibu juga gitu”
“semua ibu juga gitu”
Sudah berapa kali? Baru tiga kali yah? Berarti harus ditambah lagi. Dan suara itu terngiang lagi seperti kaset rusak dan aku tak mengerti. “semua ibu juga gitu” apa ibu juga gitu? Kemana saja aku? Memang ibu tak pernah protes atau komentar macam-macam tentang penurunan maratonku di tingkat seniorku, tapi ibu juga tak pernah memintaku melakukan itu. Lalu apa aku tak ingin melakukan yang terbaik untuk ibu? Seperti yang diharapkan ibu-ibu lainnya. Dasar anak tidak peka! Aku terlalu memikirkan diriku sendiri. Mulai sekarang aku akan berjuang. Dan semua itu karena ibu.
Berjuang memang tak mudah. Bukannya mengulang tapi bersiap dari nol. Ia tak semudah berkedip, tapi juga tak sesulit mencium siku sendiri. aku tak pernah berjuang tanpa tujuan, dan semua itu karena ibu. Apalagi yang bisa kuberikan selain hasil dari noda pulpen yang menempel di seragam putih abu-abuku  ini.

Dan inilah aku sekarang, dengan segala perjuanganku, ku persembahkan untuk ibuku, ibu yang melahirkanku, ibu yang tak pernah menuntutku, ibu yang meluaskan bahagiaku, ibu yang membuatku berkata “semua itu tak semudah berkedip dan tak sesulit mencium siku”, ibu yang segalanya bagiku, i love you ibuku...

TAK SEMUDAH BERKEDIP, TAK SESULIT MENCIUM SIKU, DAN ITU KARENA IBUKU

“Sebenarnya bukannya ngga bisa, tapi ngga mau” mungkin kata-kata itu benar, buk...